Tindak Lanjut Pengembangan Jawa Selatan, Kementerian ATR/BPN Adakan Diskusi Lanjutan Percepatan Pembangunan Kawasan Pawonsari

Tindak Lanjut Pengembangan Jawa Selatan, Kementerian ATR/BPN Adakan Diskusi Lanjutan Percepatan Pembangunan Kawasan Pawonsari

JAKARTA (suarasiber.co.id) – Dalam upaya percepatan pelaksanaan pengembangan kawasan Kabupaten Pacitan, Kabupaten Wonogiri dan Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul atau yang disebut dengan Pawonsari sebagai model pengembangan Jawa Selatan,

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengadakan Rapat Percepatan Pelaksanaan Pawonsari secara daring, pada Selasa (27/07/2021). Rapat ini membahas sejauh mana progres pembangunan Pawonsari yang dipaparkan oleh Tim Satgas Percepatan Pembangunan Pawonsari.

“Kita akan melakukan pendataan terlebih dahulu terhadap potensi perkembangan serta permasalahan di wilayah Pawonsari di mana nanti akan dilakukan pendataan di masing-masing wilayah tersebut,” ujar Andi Tenrisau, Direktur Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN dalam pengarahannya.

Menurutnya, dalam rencana pembangunan Pawonsari harus terlebih dahulu mengetahui potensi yang ada di wilayah tersebut. “Kita harus terlebih dahulu mengetahui potensi wilayah baik dari sumber daya alam, sumber daya buatan serta sumber daya manusia, karena dengan mengetahui hal-hal tersebut akan bisa menentukan arah bisnis dari pembangunan Pawonsari ini,” ungkapnya.

Hadir di kesempatan yang sama, Senthot Sudirman, Ketua Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), sekaligus Koordinator Satgas Kajian dan _Road Map_ Pawonsari menyampaikan _update_ dari pelaksanaan Pawonsari. ‚ÄúPerkembangan mengenai Pawonsari ini kita sedang menyusun _Road Map_ dengan melihat kondisi wilayah di tiga kabupaten berdasarkan penggunaan lahan, pola ruang, jenis batuan, pendidikan, jenis kelamin serta usia penduduk yang nanti akan berpengaruh terhadap _Road Map_ yang akan kita susun dalam pembangunan Pawonsari,” jelasnya.

Senthot Sudirman menambahkan sebelumnya juga sudah dilakukan survei di wilayah pembangunan Pawonsari dan pihaknya akan membangun komunikasi dengan para pihak terkait. “Kami sudah melakukan survei di beberapa wilayah dalam pembangunan Pawonsari, kami menemukan banyak lokus pariwisata yang bagus namun masih terkendala dengan akses yang masih buruk, ke depan kita akan bangun komunikasi lanjutan dengan dinas-dinas terkait,” tambah Senthot Sudirman.

Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang juga menjabat sebagai Koordinator Satgas Koordinasi Daerah Pawonsari, Suhendro menambahkan akan mengkoordinasikan lebih lanjut pelaksanaan Pawonsari dengan pihak terkait. “Sebelumnya kami sudah melakukan koordinasi dengan SKPD terkait di Kabupaten Pacitan seperti Dinas Pariwisata, Pertanian, Kehutanan dan pihak terkait lainnya namun sementara terhenti karena peraturan PPKM. Kami juga memohon dukungan serta dorongan dari pemerintah pusat kepada tiga Kabupaten di wilayah Pawonsari agar progres pembangunan dapat terintegrasi dengan baik,” ucap Suhendro.

Direktur Landreform yang sekaligus Koordinator Satgas Koordinasi K/L Terkait, Sudaryanto menyampaikan tantangan dalam pembangunan Pawonsari. “Sejauh ini dalam perencanaan pembangunan Pawonsari terdapat tantangan dalam perencanaan yang di mana pada tiga Kabupaten di wilayah Pawonsari masih berjalan sendiri dan masih saling menunggu progres satu sama lain serta dalam segi perencanaan masih belum berjalan secara berkesinambungan. Semoga dengan sudah dibentuknya Tim Percepatan Pembangunan Pawonsari tantangan tersebut dapat menjadi peluang kita dalam pembangunan Pawonsari ini,” ujarnya.

Menutup rapat, Wamen ATR/Waka BPN, Surya Tjandra mengatakan bahwa _Road Map_ yang disusun mampu menjadi bahan untuk perencanaan pembangunan 3 Kabupaten di wilayah Pawonsari. ” _Road Map_ yang sedang disusun STPN saya rasa bisa menjadi bahan pembangunan Pawonsari di Kabupaten hingga ke tingkat desa dengan memasukan perspektif tata ruang dalam penyusunan RDTR dan RTRW di Pawonsari serta _business process_ yang menghubungkan pembangunan berbasis bidang dan tata ruang sebagai kontribusi Kementerian ATR/BPN bagi daerah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Surya Tjandra menjelaskan bahwa dengan pendekatan kawasan menjadi pintu masuk untuk mengkolaborasikan dan mensinkronisasikan pembangunan yang lebih lengkap untuk Pawonsari. “Sepertinya perlu pendekatan kawasan untuk menjadi pintu masuk pembangunan Pawonsari yang lebih lengkap, melihat adanya PSN yang sudah ada seperti Borobudur itu bisa menjadi acuan pokok dan Pawonsari menjadi pendukung PSN yang sudah ada,” tutupnya.

(Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional )

Mari Berbagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *