Serang,( suarasiber.co.id ) – Dinas Kesehatan Provinsi Banten Lakukan Rapat Evaluasi Semesteran Kematian Ibu Dan Anak APBD DAK Non Fisik TA. 2023 yang di selenggarakan di aula Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Banten, Senin 19/6/2023.
Untuk diketahui yang hadir dalam acara tersebut yaitu Dr. Agustini E.Raintung selalu Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia, Solihin Abas Ketua Umum Fokal IMM Provinsi Banten, DRG Sari Nur Arofah Selalu Kabid Kesmas Dinkes Kota Tangerang, dan juga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di banten, Juga Puskesmas Kabupaten/Kota Di Banten.
Dalam Sambutan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Dr.dr. Hj Ati Pramudji Hastuti, MARS mengatakan, Pada Tahun 2015 Di Indonesia Bersama 192 Negara Lainnya Menyepakati Sustainable Development Goals (SDGs) Sebagai keberlanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang masih belum tercapai didalam SDGs terdapat 17 tujuan dimana di tujuan ke-3 sudah sepakat bahwa seluruh negara yang berkomitmen harus menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesehatan seluruh penduduk semua usia.
Untuk mencapai kehidupan sehat dan sejahtera pada tahun 2030, Ditetapkan 13 target yang di ukur melalui 50 indikator. Target target tersebut salah satu nya dari penurunan Kematian Ibu Dan Bayi.
Provinsi Banten saat ini memiliki RPJPD tahun 2020-2025 yang memiliki visi “Banten Yang Maju, Mandiri, Berdaya Saing, Sejahtera dan Berakhlakul Karimah, Sementara Salah Satu RPJMD Tahap Akselerasi ll adalah meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan berkualitas.
” Kami menyadari bahwa dengan begitu luasnya wilayah Provinsi Banten yaitu 9.663KM2, yang terdiri dari 8 Kabupaten Kota dengan total jumlah penduduk 11,79 Juta Jiwa pada bulan Juni 2021, tentu tidak mudah mencapai pelayanan kesehatan yang berkualitas di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” Ucapnya.
“Sementara itu data dari Longform Sensus penduduk 2020 yang di luncurkan kepada tahun 2023, menunjukan bahwa saat ini banten menduduki peringkat 4 terkecil kematian ibunya, yaitu denggan angka 127/100.000. Kelahiran hidup. tentunya pencapaian ini merurpakan hasil kolaborasi dari kita semua, Lintas Stakeholder di dalam bersama sama menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir,”Ungkapnya.
“Saat ini kita berkumpul bersama di hari yang berbahagia ini untuk bersama-sama berdiskusi di dalam mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan kelompok kerja penyelamatan ibu dan bayi baru lahir di provinsi banten tentunya upaya ini tidak cukup jika hanya dilakukan oleh dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas saja, tapi saya harapkan bapak- ibu semua yang berasal dari lintas sektor yang hadir pada hari ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya-upaya pemerintah provinsi banten di dalam menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir,”Tambahnya.
Ditempat yang sama DRG Sari Nur Arofah Selaku Kabid Kesmas Dinkes Kota Tangerang Mengatakan, Kota Tangerang Merupakan Kota yang terdiri dari 13 kecamatan dan luas 164 km Persegi, Namun Potensi yang ada di Kota Tangerang Sebagai gambaran saja kita punya 34 rumah sakit kemudian punya 205 klinik dan 39 Puskesmas dan denggan 264 praktek mandiri, dan untuk Posyandu 1091.
“Oleh karena itu mengapa Potensi AKI Dan AKB di kota tangerang merupakan yang paling kecil, kita juga mengadakan Terapi kepada Ibu hamil agar Potensi AKI dan AKB menurun drastis,”Ucapnya.
Untuk Diketahui Kota Tangerang merupakan Kota yang memiliki kasus Kematian ibu dan Bayi Terkecil di Provinsi Banten dari banyak nya kota/Kabupaten di Provinsi Banten.(rndl)


