(Sumber: Dikutif dari Laman FB Perpustakaan Nasional)
Peran istri dalam memajukan karier suami memang cukup besar, suasana rumahlah yang menentukan langkah suami. Hal tersebut terjadi pada keluarga Prof Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, di mana istrinya dr. Hasri Ainun Habibie, selain memberi suasana yang damai juga banyak membantu B.J. Habibie dalam memecahkan persoalan yang dihadapi selama bertugas.
dr. Hasri Ainun Habibie merupakan putri keempat dari tujuh bersaudara. Beliau lahir di Semarang, 11 Agustus 1937 dari Keluarga R. Moh Besari yang jabatan terakhirnya adalah Dosen ITB Bandung.
Setahun setelah lulus dari UI, Hasri Ainun melangsungkan pernikahan dengan Habibie yang kemudian langsung berangkat ke Jerman dan menetap di sana. Sebagai Dokter, Hasri Ainun mempraktekkan keahliannya di Jerman. Ternyata sikap keduanya sama, sebagai pengambil keputusan dan inilah yang selalu terjadi dalam rumah tangga mereka.
Setahun setelah pernikahan, Ilmah lahir di Aachen Jerman sebagai putra pertama. Hasri Ainun tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter anak. Namun suatu ketika Ilham sakit, sebagai ibu yang kasih sayangnya tak lepas kepada anak, akhirnya Hasri Ainun memutuskan untuk melepaskan profesinya kemudian mengurus anak dan rumah. Baginya pendidikan anak lebih penting ketimbang pekerjaan lain. Singkatnya hingga Thareq lahir, Hasri Ainun masih tetap mengurus rumah yang menjadi pekerjaan rutinnya selama di Jerman. Karena mencari pembantu di Jerman tidak semudah di Idnonesia. Wanita di Jerman lebih senang memilih bekerja di pabrik atau sebagai pelayan. Selain langka, juga harus membayar mahal, kalaupun ada.
B.J. Habibie akhirnya meninggalkan tugasnya sebagai Applied Teknologi dan kemudian kembali ke Indonesia. Empat tahun kemudian B.J. Habibie menjadi Menteri Ristek pada Kabinet Pembangunan III. Sejak saat itulah Thareq ikut menetap di Indonesia dan Ilham tetap melanjutkan kuliahnya di Munchen.
Hasri AInun memang sudah terbiasa dengan tugas-tugas berat suaminya sehingga ketika menjadi Ibu Menteri pun bukan hal baru bagi beliau. Hanya saja di Indoneia Hasri Ainun hatus ikut berbagai kegiatan yang melibatkan dirinya dengan organisasi di mana suaminya ditugaskan.
Selain menyertai B.J. Hbibie, Hasri Ainun juga menjabat sebagai Ketua Dharmawanita unit BPP Teknologi Ristek, PT Nurtanio banding, Otorita batan, PT PAL Surabaya dan duduk dalam RIA Pembangunan di mana saat itu Ibu Tien sebagai ketua umumnya, Hasri Ainun menjadi ketua hariannya.
Program RIA Pembangunan yaitu membangun Balai Pendidikan Tuna Wisma dan membangun Desa Taruna. RIA Pembangunan juga mendapat bantuan Patra Oil yang sudah dibagikan ke berbagai rumah sakit.
Meski tidak menjalankan profesi sebagai dokter di Indonesia, Hasri Ainun Habibie ternyata sudah berperan lebih dari dokter anak. Sebagai ketua harian RIA Pembangunan, Hasri Ainun juga menerapkan profesi dokternya dalam membantu program RIA Pembangunan yang memberi bantuan susu kepada 5700 Balita dan 400 taman Gizi di jakarta dan jawa barat pada tahun 1983.
Sumber: Sinar Harapan, 26 Juni 1983 Halaman 8 kolom 5. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA TEAM)
#BJHabibie
#HasriAinunHabibie


