Pada era 70-80an orang menyebutnya Tape Radio kaset, karena ada radionya dan ada tape nya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pada masa itu, orang memiliki benda tersebut tergolong keluarga orang yang mampu, yang mana pada waktu itu suatu desa yang letaknya di kaki bukit dan pengunungan belum tersambung aliran listrik. Sehingga supaya bisa mendengarkan dendang sebuah lagu dan siaran radio harus menggunakan baterai yang merk-nya “ABC” atau ada merk lain.

Maka pada zaman dulu, kamar ideal anak muda kalau di kamar sudah ada perangkat canggih ini. Biar suaranya mantap dikasih speaker luar ukuran 9″ yang diletakan diatas Gentong.

Sebuah benda itu, tidak menimbulkan kesenjangan sosial di kalangan warga kampung, sebab radio tape dinikmati bersama-sama keluarga, kerabat dan tetangga baik orang tua maupun muda.

Mungkin para pembaca artikel ini ada juga yang mengalami, kesal kalau pita kaset kusut, susah dikeluarkan.

“Jika pembaca ada yang senyum, ketawa dalam sendiri berarti masih mengalami masa era 80an nihh, terkenang masa laluπŸ˜…πŸ˜…”

Yang lebih terkenang lagi, Nikmati musik dari kaset pita dibatasi cuma satu dua lagu, karena takut batre tekor. Maklum belum ada listrik paling pakai Accu 12 volt. Gitu juga Ngecasnya jauh 3 km di kota kecamatan.

Biar tambah keren kamar pemuda zaman itu, dinding kamar dipasang Foster Rolling stone, Scorpions atau Godbless, Roma Irama dan Foster artis-artis cantik.

Padahal kaset yang disetel lagu bang A. Rafiq “Pandangan Pertama”.

Tadinya, sambil rebahan dengerin musik biar rileks, eh malah dengerin lagu “Ratapan Anak Tiri” πŸ€£πŸ˜€