PANDEGLANG (suarasiber.co.id) – Ternyata harapan untuk bersekolah itu masih ada.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hal itu tiba-tiba muncul bersamaan dengan perginya ibu tercinta menghadap sang khalik.

Namanya Hafidz (16), remaja asal Kampung Cilaja, Pandeglang, yang sempat dirundung kecemasan luar biasa akan masa depannya setelah gagal menembus SMA negeri.

Di tengah duka yang belum genap 80 hari itu, secercah cahaya hadir saat ia diterima di SMK PGRI Pandeglang melalui Program Sekolah Gratis Pemprov Banten.

“Saya ingin sekali memeluk Bapak Andra Soni, Gubernur Banten. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang dalam,” kata Hafidz lirih dengan mata berkaca-kaca.

Bagi anak yatim ini, kebijakan tersebut adalah penyelamat mimpi-mimpinya yang nyaris mati.

Bisikan terima kasih itu menjadi bukti betapa berharganya sekolah gratis bagi anak seorang buruh yang kini kehilangan tempat bersandar.

Kini, di rumah sederhana yang mendadak sepi tanpa kehadiran sosok ibu, Hafidz harus mendewasakan diri.

Ia tinggal berdua dan merawat adik laki-lakinya yang baru masuk SMP.

Sementara sang ayah, Yadi Sugianto, harus memeras keringat di perantauan Tangerang sebagai buruh bangunan demi menyambung hidup, dan hanya bisa pulang dua minggu sekali.

Sebelum melangkah kembali ke proyek bangunan di kota seberang, sang ayah meninggalkan pesan getir yang tertanam kuat di dada Hafidz.

Beliau berpesan agar Hafidz belajar dengan sungguh-sungguh, tidak perlu gengsi bersekolah di mana pun, memilih teman yang baik, dan yang paling utama adalah menjaga adiknya.

Amanah itulah yang kini didekap erat oleh Hafidz, mengiringi langkah kakinya ke sekolah dengan harapan baru yang kembali menyala.