CILEGON, (suarasiber.co.id) – Pengelolaan sampah di ratusan sekolah di Kota Cilegon menjadi sarana percantik sekolah dan kretifitas. Hal tersebut terungkap saat launching bach 3 dan 4 Kolaborasi Ekonomi Sirkular Kelola Sampah di Sekolah (KOLASE) di SMPN 5 Kota Cilegon, Kamis 24 September 2026.
Program tersebut merupakan kerjasama antara PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group), Yayasan Bakti Barito serta Pemerintah Pemkot Cilegon yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan Kota Cilegon.
Pengelolaan sampah sebagai sarana mempercantik sekolah terlihat jelas di SMPN 5 Kota Cilegon. Gapura sekolah yang berlokasi di Kecamatan Cibeber itu bahkan menggunakan botol plastik bekas bekas yang disatukan.
Kepala SMPN 5 Kota Cilegon, Ade Solahudin mengatakan, program KOLASE yang dijalankan di sekolah yang ia pimpin dilakukan untuk menumbuhkan murid dan jajaran sekolah peduli pada lingkungan.
“Melalui program ini anak-anak juga bisa berkreatifitas, seperti ecobrik, gapura sekolah juga kami buat dari botol bekas sebagai deklarasi kami masuk bach 1 pilot project program KOLASE. Itu anak-anak (siswa-red) yang bikin, kita hanya buat design,” katanya saat ditemui di sekolah.
Kata Ade, pemanfaatan sampah di sekolah terbilang cukup banyak dan ia juga bekerjasama dengan bank sampah. Sampah seperti kardus, botol-botol plastik dan berbagai sampah yang bernilai ekonomis lainnya.
Ade menuturkan, awalnya program pengumpulan sampah diberikan nilai ekonomisnya kepada para siswa secara personal. Namun, kini penukarannya dikumpulkan perkelas.
“Hal yang utama yang kami ke depankan sebetulnya peduli lingkungan, kami penimbangan sepekan dua kali Selasa dan Kamis. Dengan program ini sekolah juga alhamdulillah bersih dari sampah,” ungkapnya.
“Program ini membutuhkan konsistensi, makan kepedulian terhadap sampah yang terpenting. Dari saya juga harus memberikan role model,” imbuhnya.
Selain pengolahan sampah untuk mempercantik sekolah, sampah juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan yang bernilai ekonomi.
Kepala SDN Cipaot, Masitoh mengungkapkan, pihaknya melakukan pendampingan di dua sekolah untuk memanfaatkan sampah anorganik menjadi karya seperti vas bunga, tempat tisu, bunga plastik.
“Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kita juga mengelola sampah organik menjadi pupuk hingga pembangkit listrik juga,” katanya.
Kata dia, sampah yang kurang diminati di lingkungan yakni sampah organik seperi pelepah pisang yang kerap dibuang ke sungai, daun kering, ilalang, bekas panen padi dan kacang bisa dimanfaatkan olehnya.
“Sampah-sampah itu kita campur dengan sekam agar kalorinya naik dan bisa bernilai ekonomis. Saya sudah aktif di program KOLASE dari bach 2 dan mendampingi dua sekolah, pada bach 3 dan 4 ini saya dilibatkan di Kecamatan Citangkil dan Ciwandan ada 16 sekolah,” ungkapnya.
Masito selaku edukator dan evaluator mendampingi 18 sekolah di Kota Cilegon untuk memaksimalkan pengelolaan sampah dengan enam target utama seperti tutup botol, botol plastik bersih, kap bersih, kardus, HVS, dan LKS atau koran. (*)


