TANGERANG SELATAN, (suarasiber.co.id) — Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos., melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33, Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (18/9/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day (WCD) 2026, sekaligus momentum memperkuat edukasi kependudukan, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, serta kesiapan generasi muda dalam merencanakan masa depan dan kehidupan berkeluarga.

Di hadapan para siswa, Isyana menekankan bahwa pembangunan keluarga berkualitas tidak dimulai ketika seseorang telah menikah, tetapi dipersiapkan sejak masa anak-anak dan remaja.

Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kesehatan reproduksi, mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta memahami pentingnya perencanaan kehidupan sebelum memasuki jenjang perkawinan.

“Membangun keluarga berkualitas bukan pekerjaan yang dimulai setelah seseorang menikah. Fondasinya justru dibangun sejak anak-anak dan remaja. Karena itu, pendidikan, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan pembentukan karakter harus menjadi bagian dari investasi kita untuk menyiapkan generasi masa depan.”

Isyana mengatakan, edukasi mengenai kontrasepsi tidak semata-mata berbicara tentang penggunaan alat atau metode kontrasepsi. Dalam perspektif pembangunan keluarga, kontrasepsi berkaitan dengan kemampuan pasangan untuk merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan ibu dan anak, serta mempersiapkan kehidupan keluarga secara bertanggung jawab.

“Kontrasepsi harus dipahami dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai bagian dari perencanaan kehidupan berkeluarga. Ketika sebuah keluarga mampu merencanakan kehamilan dengan baik, menjaga kesehatan ibu dan anak, serta mempersiapkan masa depan, sesungguhnya kita sedang membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.”ujarnya

Ia juga menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam memberikan bekal kepada generasi muda. Edukasi kesehatan reproduksi, menurutnya, harus diberikan secara tepat, sesuai usia, berbasis pengetahuan, dan dilakukan dengan melibatkan keluarga serta lingkungan pendidikan.

“Sekolah bukan hanya tempat anak memperoleh pengetahuan akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk membangun karakter, mengenali potensi diri, belajar mengambil keputusan, dan memahami bagaimana menjaga kesehatan dirinya. Semua itu merupakan bagian dari proses mempersiapkan kehidupan mereka di masa depan.”tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Isyana turut menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan generasi muda. Anak dan remaja membutuhkan lingkungan yang aman agar dapat menyampaikan persoalan, mendapatkan pendampingan, serta memperoleh bantuan ketika menghadapi tekanan.

“Kita ingin anak-anak tumbuh bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia yang sehat secara fisik dan mental, mampu mengenali dirinya, mampu membangun hubungan yang sehat, dan berani mencari pertolongan ketika menghadapi masalah.”

Menurut Isyana, pendekatan pembangunan keluarga harus dilakukan melalui siklus kehidupan. Karena itu, intervensi pemerintah tidak hanya diarahkan kepada pasangan usia subur, tetapi juga kepada anak dan remaja sebagai calon generasi yang kelak membentuk keluarga.

“Kalau kita ingin berbicara tentang keluarga berkualitas, maka kita harus melihatnya sebagai sebuah proses panjang. Apa yang kita tanamkan kepada anak-anak hari ini akan menentukan kualitas keluarga dan masyarakat Indonesia di masa yang akan datang.”

Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan edukasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Tidak ada satu institusi yang bisa bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan sekolah, sekolah membutuhkan keluarga, dan keluarga membutuhkan lingkungan masyarakat yang mendukung. Kolaborasi inilah yang akan menjadi kekuatan dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berkualitas.”

Rangkaian WCD 2026 di Banten juga diisi dengan pelayanan keluarga berencana bagi pasangan usia subur. Pelayanan tersebut diarahkan untuk memperluas akses terhadap kontrasepsi, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam merencanakan kehamilan, serta mendukung pembangunan keluarga yang berkualitas.

Momentum Hari Kontrasepsi Sedunia 2026 dengan demikian tidak hanya menjadi kampanye mengenai kontrasepsi, tetapi juga menjadi ruang edukasi tentang pentingnya perencanaan kehidupan, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan kesiapan membangun keluarga.
Bagi pemerintah, investasi terhadap generasi muda merupakan investasi jangka panjang. Pengetahuan yang diberikan sejak dini diharapkan menjadi bekal bagi anak dan remaja untuk mengambil keputusan secara matang ketika memasuki fase kehidupan berikutnya, termasuk saat membangun keluarga.(Azhari)