SURYANSYAH
Penikmat Sepak Bola

Scroll Untuk Lanjut Membaca

DEPOK, (suarasiber.co.id) – Angka tak pernah dusta. Data terhampar. Timnas Indonesia hanya sekali menang dari 16 pertemuan melawan Arab Saudi.

Itu pun terjadi di kandang sendiri. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 19 November 2024.
Timnas Indonesia membius Arab Saudi 2-0 pada round 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kedua gol dibukukan Marselino Ferdinan menit 32 dan 57.

Selebihnya, skuat Garuda menelan 11 kekalahan dan empat kali imbang. Green Falcons- julukan Arab Saudi- mencetak 45 gol ke gawang Timnas Indonesia.

Legendaris Majed Abdullah donasikan seperlima gol untuk Arab Saudi. Termasuk lima gol pada pertemuan pertama tahun 1980. Arab Saudi mencukur Timnas Indonesia 8-0.

Majed Abdullah berada di puncak daftar 21 pemain Arab Saudi yang telah merobek gawang Timnas Indonesia. Diikuti oleh Talal Al-Mishaal dengan enam gol.

Yasser Al-Qahtani dan Fahad Al-Muhallel sama-sama mencetak tiga gol, sementara Ibrahim Suwaid, Shaye Al-Nafisa, Abdullah Al-Jumaan, Obaid Al-Dosari, Yousry Al-Basha, dan Yousef Al-Salem masing-masing mencetak dua gol.

Sebelas pemain Arab Saudi lainnya juga telah mencetak gol melawan Indonesia. Termasuk satu pemain dari skuad Green Falcons saat ini: Musab Al-Juwair.

Catatan itu membuat Timnas Indonesia berlabel underdog. Tidak diunggulkan di round 4 yang dihuni Arab Saudi dan Irak.

Footy Rankings, menslot Timnas Indonesia 5 persen untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Arab Saudi 67 persen peluang jadi juara grup.

Irak diprediksi 28 persen untuk juara grup. Dan 53 persen finis di urutan kedua.

Tapi, angka-angka itu cuma statistik. Masih bisa diutak atik. Sepak bola Indonesia telah berubah. Karakter permainan maupun mental pemain di lapangan.

Pemain naturalisasi memberi warna berbeda. Jay Idzes – yang merumput di Serie A- menjelma seperti Benteng Vredeburh warisan Belanda di Yogyakarta.

Justin Hubner – yang memiliki DNA Makassar dan Bandung – seperti Benteng Ujung Pandang yang kokoh. Kolaborasinya Idzes dan Hubner dengan produk lokal Rizky Ridho terbukti efektik.

Ketiganya bisa saling mengisi. Mereka sudah sehati. Komposisi ini dikenal dengan trio JIR. Mereka menjadi benteng pertahanan yang solid. Sering mencatat clean sheet. Doa 200 juta pecinta sepak bola Indonesia menambah adrenalin kekuatan mereka.

Kepercayaan diri Jay Idzes dan kawan-kawan semakin menguat berkat pekikan suporter setia dari pelosok negeri.

Bahrain dan China ditaklukkan dalam laga krusial di babak ketiga. Hanya Australia yang pulang dengan membawa pulang satu poin.

Di sayap kita juga punya pemain level Eropa. Calvin Verdonk yang bermain di Lille dan Kevin Diks (Borussia Monchengladbach).

Sang profesor Thom Haye juga punya visi sepak bola. Duet dengan Ricky Kambuaya mampu menghidupkan irama permainan.

Meski Thom Haye berusia 30 tahun, ia masih memiliki senjata berbahaya. Umpan yang terukur bisa memanjakan lini depan yang diisi oleh Ole Romeny (Oxford United) dan Miliano Jonathans (Utrecht)- titisan Raja Depok.

Belum lagi nama-nama lainnya. Ragnar Oratmangoen, Joey Pelupessy (Lommel-Liga Belgia), Dean James (Go Ahead Eagles-Liga Belanda), Mauro Zijlstra (Volendam-Liga Belanda), Sandy Walsh, Shayne Pattynama (Buriram United), Eliano Reijnders serta pemain lokal Beckham Putra, Stefano Lilipaly, Yance dan Yakoc Sayuri.

Sekali lagi Timnas Indonesia memang underdog. Tapi, bisa menjadi ‘Kuda Hitam’ yang memberi ancaman. Bukan mustahil bisa mengejutkan Arab Saudi dan Irak.

Kita mungkin bangsa yang tidak memiliki tradisi sepak bola seperti Brasil. Kita mungkin selalu dipandang sebelah mata. Kita sudah terlalu akrab dengan kata “berat,” sampai akhirnya tahu, berat itu bukan alasan tapi proses.

Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal, mengatakan sepak bola selalu menghadirkan kejutan. Sepak bola sesuatu yang dulit diprediksi.

Wenger memberi contoh bagaimana sebuah klub kecil seperti Bradford dapat mengalahkan Chelsea, hingga Diego Maradona mampu menjadi pemain terbaik dunia meski posturnya sangat kecil.

Jadi jangan berkecil hati Garuda meski dikecilkan. Angka memang tak pernah dusta. Tapi, sepak bola bukan matematika. Bukan ilmu pasti. Satu tambah satu, pasti dua.

Ayo Garuda kepakan sayapmu. Terbanglah ke langit Amerika, Meksiko dan Kanada- tuan rumah Piala Dunia 2026.