Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

(suarasiber.co.id) – Ada peristiwa-peristiwa tertentu dalam perjalanan hidup seseorang yang tampaknya sederhana ketika terjadi, tetapi baru terasa betapa besar maknanya setelah puluhan tahun berlalu.

Bagi seorang santri, salah satu peristiwa yang paling membekas dalam hidup adalah ketika seorang guru atau kiai memberikan kepercayaan.

Kepercayaan itu mungkin hanya berupa sebuah tugas.

Mungkin hanya sebuah pesan.

Mungkin hanya sebuah pekerjaan kecil.

Tetapi bagi seorang santri, amanah dari guru bukanlah sekadar pekerjaan. Di dalamnya terdapat penghargaan, pendidikan, kepercayaan, sekaligus doa yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata.

Saya pernah mengalami peristiwa seperti itu bersama Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief.

Suatu hari, beliau memanggil saya ke kediamannya.

Begitu mendapat panggilan tersebut, tentu saya segera datang. Namun, seperti lazimnya seorang santri ketika dipanggil oleh kiainya, dalam hati sempat muncul sebuah pertanyaan:

_“Kira-kira ada apa, ya?”_

Saya kemudian menghampiri beliau, mengucapkan salam, lalu duduk dengan penuh hormat.

Tanpa banyak pengantar, beliau langsung berkata:

*“Nang, saya ini sudah sangat sibuk. Tolong buatkan teks khutbah Jum’at. Kamu bawa ke saya setiap minggu, ya.”*

Mendengar permintaan itu, saya menjawab dengan penuh kegembiraan:

*“Dengan senang hati, Pak Kiai.”*

Percakapan itu sangat singkat.

Tetapi bagi saya, maknanya sangat panjang.

Saya kemudian kembali ke kamar dengan membawa sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain: *sebuah kebanggaan karena mendapatkan kepercayaan* .

*Amanah Bukan Sekadar Tugas*

Sejak saat itulah saya merasa mendapatkan sebuah amanah khusus dari Pak Kiai.

Mungkin bagi orang lain, membuat teks khutbah Jum’at hanyalah pekerjaan menulis. Tetapi bagi saya, tugas tersebut bukan sekadar menulis.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam.

Saya merasa sedang belajar membaca kebutuhan umat.

Saya belajar memilih ayat dan hadis yang tepat.

Saya belajar merangkai pesan keislaman agar dapat dipahami masyarakat.

Saya belajar menyampaikan nilai-nilai agama secara sistematis.

Dan yang lebih penting, saya belajar bahwa *ilmu tidak boleh hanya tinggal di dalam buku atau ruang kelas. Ilmu harus menjadi sesuatu yang memberi manfaat kepada manusia.*

Setiap minggu, tugas itu mengingatkan saya bahwa seorang penuntut ilmu memiliki tanggung jawab.

Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar pula kewajiban untuk mengabdikannya.

*Kepercayaan Adalah Pendidikan*

Dalam kehidupan pesantren, seorang kiai mendidik tidak hanya melalui pengajian.

Kiai juga mendidik melalui kepercayaan.

Kadang seorang guru tidak banyak memberikan ceramah.

Ia hanya memberikan sebuah tugas.

Namun tugas itulah yang kemudian membentuk karakter.

Sebab, ketika seorang guru memberikan amanah kepada muridnya, sesungguhnya ia sedang mengatakan tanpa kata:

*“Saya percaya kamu mampu.”*

Kepercayaan seperti inilah yang sering kali membangkitkan potensi seseorang.

Ada orang yang baru mengetahui kemampuannya setelah diberi kesempatan.

Ada orang yang baru menemukan kekuatannya setelah diberi tanggung jawab.

Dan ada pula orang yang baru tumbuh menjadi pemimpin setelah dipercaya memikul amanah.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan.

Pendidikan juga harus memberikan kepercayaan.

*Seorang Santri yang Dibentuk oleh Amanah*

Jika saya menengok kembali perjalanan sebagai santri dan guru, sebenarnya amanah bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.

Ketika berada di kelas enam MMI, saya pernah mendapatkan kepercayaan sebagai *Wakil Ketua ISMI* .

Kemudian, ketika mengabdi sebagai guru, saya kembali mendapatkan amanah sebagai Ketua *Majelis Nahdhatul Lughah (Gerakan Berbahasa)*

Dan kemudian, datang pula amanah khusus dari Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief untuk membantu menyiapkan teks khutbah Jum’at.

Ketika direnungkan, semua itu seperti sebuah mata rantai pendidikan.

Satu amanah mempersiapkan diri untuk menerima amanah berikutnya.

Satu tanggung jawab melatih keberanian untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, saya semakin percaya bahwa:

*Seseorang tidak tiba-tiba menjadi pemimpin. Ia dibentuk* *oleh amanah-amanah kecil yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.*

Mungkin seseorang memulai dengan menjadi ketua sebuah organisasi.

Kemudian dipercaya memimpin sebuah kegiatan.

Setelah itu memimpin kelompok yang lebih besar.

Dan tanpa terasa, perjalanan panjang itu membentuk kepribadian dan kemampuan kepemimpinannya.

Maka jangan pernah meremehkan amanah kecil.

Sebab bisa jadi, amanah kecil itulah yang sedang mempersiapkan seseorang untuk sebuah perjuangan besar.

*Kebanggaan Seorang Santri*

Sebagai seorang santri, saya merasakan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika mendapatkan kepercayaan dari Pak Kiai.

Bukan karena tugas membuat khutbah itu membuat saya merasa lebih hebat daripada orang lain.

Justru sebaliknya.

Amanah itu membuat saya merasa harus lebih berhati-hati.

Karena kepercayaan seorang guru bukanlah sesuatu yang boleh disia-siakan.

Ada sebuah nilai penting dalam hubungan antara kiai dan santri yang mungkin tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Hubungan itu bukan sekadar hubungan antara pimpinan dan bawahan.

Bukan pula sekadar hubungan antara pemberi tugas dan pelaksana tugas.

Hubungan itu dibangun oleh *adab, cinta, kepercayaan, dan pengabdian.*

Ketika seorang kiai memanggil santrinya, lalu memberikan sebuah amanah, seorang santri sejati tidak pertama-tama bertanya:

_“Apa keuntungan saya?”_

Tetapi ia bertanya dalam dirinya:

_“Bagaimana saya dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya?”_

Di situlah sesungguhnya nilai pendidikan pesantren.

Pesantren bukan hanya mendidik santri agar pandai berbicara.

Pesantren mendidik santri agar siap memikul tanggung jawab.

*“Dengan Senang Hati, Pak Kiai”*

Saya masih mengingat jawaban saya pada waktu itu:

_“Dengan senang hati, Pak Kiai.”_

Kalimat itu sederhana.

Tetapi kini saya memahami bahwa dalam kehidupan, tidak semua amanah harus dijawab dengan keluhan.

Ada amanah yang harus diterima sebagai kehormatan.

Ada tugas yang harus dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian.

Dan ada kepercayaan yang harus dijaga sebagai bentuk kesetiaan kepada guru.

Seorang guru yang memberikan kepercayaan kepada muridnya sesungguhnya sedang membuka pintu pengalaman.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi guru kedua dalam kehidupan.

Mungkin seseorang tidak akan mengingat seluruh teori yang pernah dipelajarinya.

Tetapi ia akan mengingat tugas yang pernah diberikan gurunya.

Ia akan mengingat kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya.

Dan ia akan mengingat bagaimana amanah itu mengubah dirinya.

*Dari Teks Khutbah Menuju Mimbar Kehidupan*

Kini, setelah perjalanan hidup berjalan panjang, saya menyadari bahwa tugas menulis teks khutbah Jum’at itu bukan hanya latihan menulis.

Itu adalah latihan memasuki mimbar kehidupan.

Sebab, pada akhirnya, setiap orang memiliki mimbar.

Ada yang memiliki mimbar di masjid.

Ada yang memiliki mimbar di kelas.

Ada yang memiliki mimbar di pesantren.

Ada yang memiliki mimbar dalam keluarga.

Dan ada pula yang memiliki mimbar melalui kepemimpinan.

Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi mimbar yang kita miliki.

Tetapi apakah kita siap mempertanggungjawabkan kata-kata dan amanah yang diberikan kepada kita.

Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief, mungkin pada saat itu hanya meminta saya membuat teks khutbah.

Tetapi tanpa disadari, amanah itu mengajarkan sebuah pelajaran yang jauh lebih besar:

*Orang yang dipercaya harus* *belajar menjaga kepercayaan.*

Dan orang yang pernah mendapatkan kepercayaan dari gurunya memiliki kewajiban moral untuk meneruskan nilai itu kepada generasi berikutnya.

*Warisan Terbesar Seorang Guru*

Seorang guru dapat meninggalkan buku.

Seorang kiai dapat meninggalkan bangunan.

Seorang pemimpin dapat meninggalkan lembaga.

Tetapi warisan terbesar seorang guru sesungguhnya adalah *manusia-manusia yang pernah ia percayai dan kemudian tumbuh karena kepercayaan itu.*

Mungkin seorang kiai tidak pernah menyadari betapa sebuah amanah sederhana dapat membekas begitu dalam di hati seorang santri.

Tetapi bagi seorang santri, kepercayaan dari kiainya dapat menjadi salah satu sumber kekuatan sepanjang hidup.

Karena itu, para pendidik dan pemimpin harus memahami satu hal:

*Jangan hanya mencari kesalahan generasi muda.* *Berilah mereka kepercayaan.*

Jangan hanya mengatakan:

_“Kamu belum mampu”._

Tetapi berikan kesempatan agar mereka membuktikan kemampuannya.

Sebab generasi muda tidak hanya membutuhkan instruksi.

Mereka membutuhkan kepercayaan.

*Penutup: Ketika Kiai Memanggil Santrinya*

Saya sering merenungkan kembali peristiwa sederhana itu.

Seorang kiai memanggil santrinya.

Seorang santri datang dengan penuh hormat.

Kemudian sang kiai memberikan amanah.

Sang santri menjawab:

*“Dengan senang hati, Pak Kiai.”*

Mungkin hanya beberapa menit.

Tetapi beberapa menit itu dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang panjang.

Dari sana saya belajar bahwa hidup tidak selalu berubah oleh peristiwa besar.

Kadang kehidupan berubah oleh sebuah kepercayaan sederhana.

Oleh sebuah tugas.

Oleh sebuah amanah.

Dan oleh seorang guru yang melihat sesuatu dalam diri muridnya yang mungkin belum disadari oleh murid itu sendiri.

Bagi saya, amanah dari Pak Kiai Ahmad Rifa’i Arief tersebut bukan sekadar kenangan.

Ia adalah bagian dari pendidikan.

Bagian dari perjalanan.

Dan bagian dari kebanggaan sebagai seorang santri.

Karena pada akhirnya, salah satu kebahagiaan terbesar seorang santri bukanlah ketika ia mendapatkan pujian dari gurunya.

Tetapi ketika ia merasa:

*“Guru saya pernah mempercayai saya.”*

Dan kepercayaan itu, bagi seorang santri, kadang nilainya lebih besar daripada penghargaan apa pun.

*Sebab ilmu dapat diperoleh dari banyak guru,*
*tetapi kepercayaan dari seorang guru adalah* *kehormatan yang harus dijaga sepanjang umur.*