SERANG, (suarasiber.co.id) – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terkait dengan tumbuh kembang anak sejak dini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten melaksanakan kegiatan monitoring pelaksanaan Banten Cegah Stunting (Bagas), yang di laksanakan di Aula Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang. Rabu, 20/07/2022.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Dinkes Banten, DR. dr. Ati Pramudji Hastuti mengatakan tujuan dari pertemuan ini adalah bagaimana mengajak elemen masyarakat untuk bersama – sama menurunkan angka stunting di wilayah Kabupaten Serang, di wilayah Provinsi Banten pada umumnya.

“Karena kami menilai, perbandingan Tahun 2020 Kabupaten Serang mengalami penurunan stunting yang cukup signifikan, dari angka 37,4 persen menjadi menjadi angka 27,2 persen,” kata dr. Ati.

Jadi, peserta kegiatan monitoring tersebut diikuti lebih kurang lebih 50 orang, dari seluruh elemen dan komponen masyarakat. Ada dari kader PKK, dari Puskesmas, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Seluruh Pemerintah Kecamatan di Provinsi Banten, wajib melakukan penurunan stunting,” jelas dr. Ati

Ati Pramudji Hastuti menjelaskan angka stunting di Provinsi Banten tahun 2021, dari Survei Status Gizi Indonesia sebanyak 24,5 persen sedangkan capaian nasional 24,4 persen. Maka dari itu, untuk mencegahnya, pihak Dinkes Provinsi Banten menggandeng stakeholder dalam rangka mencegah stunting di masyarakat.

“Hal tersebut, memerlukan kerjasama lintas sektor mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota hingga desa,” ucapnya.

Lebih lanjut, pencegahan stunting adalah mensosialisasikan supaya tidak melakukan pernikahan pada usia dini. Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Agama sudah menjalin kerjasama terkait penundaan perkawinan pada usia dini. Gunanya adalah terkait pencegahan stunting masyarakat Indonesia.

“Kalaupun terjadi menikah pada usia dini, agar menunda kehamilannya. Kemudian apabila sudah hamil dan punya anak supaya menjaga jarak kehamilan, jangan mentang-mentang banyak anak banyak rezeki belum 1 tahun 2 tahun sudah hamil lagi. Jadi, ikut program KB supaya keluarga bahagia,” papar dr. Ati.

“Sekarang, pasangan calon pengantin tidak boleh menikah dulu sebelum periksa kesehatan, ditambah adanya kerjasama antara Dinkes dengan Kementerian Agama bagi calon pengantin terlebih dahulu dilakukan pembinaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tunjung Teja Dede menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dinkes Provinsi Banten, yang mana telah membantu monitoring dan sosialiasi terkait stunting di wilayah Kecamatan Tunjung Teja, karena di Tunjung Teja juga jumlah anak stuntingnya lumayan banyak ada 304 orang. Kemudian di tahun 2023 besok kita ada fokus penanganan stunting di (Dua) 2 Desa, yakni Desa Bojong Menteng dan Desa Panungulan.

Dengan adanya dari Dinkes Provinsi Banten melakukan monitoring mudah-mudahan untuk penanganan stunting ini lebih cepat. di tahun 2024 kita bisa menurun sesuai dengan harapan pak presiden.

“Untuk saat ini, penanganan stunting yang sudah kita lakukan, yang pertama adalah pemberian suplementasi bubuk Multivitamin, kemudian pemberian makanan tambahan melalui kader di Posyandu, pemberian konseling informasi dan edukasi. Ketika ada anak yang gizinya kurang atau penyakit kita rujuk di rumah sakit. Untuk penanganan sementara dari desa menyediakan alat ukur untuk penanganan stunting ini, kemudian juga penyediaan air bersih yang sekarang ini sudah mulai di lakukan,” jelas Dede.

Kategori stunting di ukur dari antara berat badan dan panjang badan, misalnya dalam satu tahun itu berat badannya berapa, lebih jelasnya nanti kita liat di rumus masuknya gizi normal atau stunting.

“Stunting yang paling tinggi ada di Desa Panunggulan, Desa Sukasari dan Desa Malanggah,“. (Adv).