LEBAK, (suarasiber.co.id) – Forum Warga Bersatu (Forwatu) Banten bersama LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Kabupaten Lebak menggelar bakti sosial (baksos) kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan sembako dan selimut kepada warga hunian sementara (huntara) di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan di tengah kondisi memprihatinkan warga terdampak bencana yang hingga kini telah enam tahun masih bertahan di huntara tanpa kepastian hunian permanen. Selama kurun waktu tersebut, warga hidup dengan keterbatasan fasilitas, kondisi bangunan yang tidak layak, serta menghadapi cuaca dingin yang kerap memperburuk keadaan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Ketua Forwatu Banten, Arwan, menegaskan bahwa bakti sosial ini merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan, namun tidak boleh dijadikan alasan pembenaran atas lambannya penanganan pascabencana.
“Enam tahun tinggal di huntara bukan waktu yang singkat. Bantuan ini murni bentuk kepedulian, tetapi kami ingin menegaskan bahwa persoalan ini adalah tanggung jawab negara. Pemerintah harus hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar bantuan sementara atau janji,” tegasnya.
Ia menilai, kondisi tersebut mencerminkan lemahnya komitmen dalam penyelesaian hunian layak bagi warga terdampak bencana, yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Sementara itu, Ketua LSM GMBI Distrik Kabupaten Lebak, King Naga, menyampaikan kritik keras terhadap lambannya realisasi hunian tetap bagi warga Lebak Gedong.
“Ini bukan lagi situasi darurat, karena darurat itu sementara. Enam tahun warga hidup di huntara menunjukkan ada masalah serius dalam penanganan pascabencana. Pemerintah harus jujur dan terbuka, kapan hunian tetap dibangun dan bagaimana progresnya,” ujar King Naga.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi penggunaan anggaran penanganan bencana agar tidak menimbulkan kecurigaan dan kekecewaan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai warga menjadi korban berkepanjangan akibat kelalaian dan ketidakjelasan kebijakan,” tambahnya.
Kondisi sulit tersebut diungkapkan langsung oleh warga huntara. Raman (53), salah seorang penerima bantuan, mengaku kelelahan hidup dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun.
“Sudah enam tahun kami tinggal di sini. Kalau hujan bocor, kalau malam dingin sekali. Anak-anak tumbuh di tempat seperti ini. Kami bersyukur ada bantuan, tapi yang kami butuhkan adalah rumah yang layak, bukan janji terus-menerus,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal senada disampaikan ibu Cici(38), warga huntara lainnya, yang berharap pemerintah tidak lagi menutup mata.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Enam tahun itu bukan waktu sebentar. Kami hanya ingin hidup normal seperti warga lainnya, punya rumah yang aman,” katanya lirih.
Forwatu Banten dan LSM GMBI Lebak menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi warga huntara Lebak Gedong serta mendorong pemerintah daerah dan pihak terkait agar segera mengambil langkah konkret, terukur, dan transparan dalam menyelesaikan persoalan hunian pascabencana yang telah berlarut-larut.(Azhari)


